Selasa, 22 Maret 2016

SILENT (2)



Hari mulai memanas. Mbok Rawe bergegas membawa daun talas. Tanpa alas ia memangkas doa-doa yang terulas. Ia adalah satu dari sekian banyak perempuan Sidomulih yang tersumpah setia, anggota underground movement, pejuang berdiri dan tegaknya Mataram di alas Mentaok, ibu kota kerajaan.

Apa hendak dikata, Pajang kian goyah pendiriannya. Mereka sibuk membalas dendam kepada penguasa Mataram hingga lupa pada tugas mulia; menyejahterakan rakyat dan memuliakan harkat manusia. 

Sementara Mataram, di bawah kepemimpinan Sutawijaya, pelan namun pasti kian memijar cahayanya, melebarkan pusat kekuasaannya, menebang hutan, membangun jalan, mengundang saudagar, membangun pasar, mengokohkan gerbang kota dan menyiagakan penjaganya.  

Sutawijaya bagi sementara orang memang hanya pemuda biasa. Ia adalah putera Ki Ageng Pemanahan, seorang petani yang konon masih memiliki aliran darah bangsawan Majapahit. Sebuah negeri yang gegap gempita pada jaman keemasannya. 

Meski berdarah bangsawan, namun tak elak orang heran, sebab tak ada tanda-tanda kekuasaan di telapak tangannya. Mana ada bangsawan memegang cangkul di sawah? Mana bisa darah bangsawan menebang kayu di hutan? Berteman nyamuk, kera, celeng dan macan yang ganas.  

Hingga suatu hari yang istimewa. Utusan Raja Pajang membawa berita sayembara. Barang siapa mampu menundukkan musuh negara akan diberi hadiah tanah perdikan. Itulah janji Hadiwijaya menyerukan asa. 

Ki Ageng Pemanahan menyanggupi sayembara itu. Beruntung bukan kepalang, sang ayahanda, Pemanahan, syahdan mampu menundukkan Arya Penangsang. Maka jadilah janji raja untuk memberikan tanah Mataram sebagai hadiahnya.   

Nama Mataram barangkali bertali kata dengan Mutter yang berarti ibu (Bahasa Jerman) atau Mother (dalam Bahasa Inggris). Mataram adalah ibu sekaligus kalbunya Nusantara. Ia selalu menjadi petirahan bagi kesatria yang lelah dan hilang tujuan. Di bumi Mataram segala yang panas menjadi dingin, dan yang congkrah menjadi ingin berdamai. Ibu manakah tidak sayang anak-anaknya? Ia samudera cinta.
***
Mbok Rawe bergegas hengkang, hendak menyiapkan tikar dan wedang. Sebab suaminya hendak segera datang, ke Desa Sidomulih, tempat semua makhluk berpulang.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar