Apa hendak dikata, Pajang kian
goyah pendiriannya. Mereka sibuk membalas dendam kepada penguasa Mataram hingga
lupa pada tugas mulia; menyejahterakan rakyat dan memuliakan harkat manusia.
Sementara Mataram, di bawah
kepemimpinan Sutawijaya, pelan namun
pasti kian memijar cahayanya, melebarkan pusat kekuasaannya, menebang hutan,
membangun jalan, mengundang saudagar, membangun pasar, mengokohkan gerbang kota
dan menyiagakan penjaganya.
Sutawijaya bagi sementara orang memang hanya pemuda biasa. Ia
adalah putera Ki Ageng Pemanahan, seorang petani yang konon masih memiliki aliran
darah bangsawan Majapahit. Sebuah negeri yang gegap gempita pada jaman
keemasannya.
Meski berdarah bangsawan, namun tak
elak orang heran, sebab tak ada tanda-tanda kekuasaan di telapak tangannya.
Mana ada bangsawan memegang cangkul di sawah? Mana bisa darah bangsawan menebang
kayu di hutan? Berteman nyamuk, kera, celeng
dan macan yang ganas.
Hingga suatu hari yang istimewa. Utusan Raja Pajang membawa berita sayembara. Barang siapa mampu menundukkan musuh negara akan diberi hadiah tanah perdikan. Itulah janji Hadiwijaya menyerukan asa.
Ki Ageng Pemanahan menyanggupi
sayembara itu. Beruntung bukan kepalang, sang ayahanda, Pemanahan, syahdan
mampu menundukkan Arya
Penangsang. Maka jadilah janji raja untuk memberikan tanah
Mataram sebagai hadiahnya.
Nama Mataram barangkali bertali kata dengan Mutter yang berarti ibu (Bahasa Jerman) atau Mother (dalam Bahasa Inggris). Mataram adalah ibu sekaligus kalbunya Nusantara. Ia selalu menjadi petirahan bagi kesatria
yang lelah dan hilang tujuan. Di bumi Mataram segala yang panas menjadi dingin,
dan yang congkrah menjadi ingin
berdamai. Ibu manakah tidak sayang anak-anaknya? Ia samudera cinta.
***
Mbok Rawe bergegas hengkang, hendak
menyiapkan tikar dan wedang. Sebab suaminya hendak segera datang, ke Desa Sidomulih, tempat semua makhluk berpulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar