Kamis, 24 Maret 2016

SILENT (3) - Naga Anila



Penduduk Desa Sidobali mendadak riuh! 

Tak jauh dari pohon Kesumba tumbuhlah setangkai bunga. Bunga itu manis dan elok; tinggi selutut orang dewasa, bentuknya bulat nyempluk seperti apem, warnanya merah berseri dengan taburan titik-titik berwarna biru, kuning dan ungu. Batangnya sebesar jempol lelaki remaja, sekujur batang itu dipenuhi bulu-bulu halus putih warnanya. Daunnya mirip daun cocor bebek, berjumlah dua saja. Bunga yang elok nan cantik. Penduduk mendapatinya menangis semenjak malam tadi! 

Usut punya usut, Puspitasari namanya, sedang menunggu kakanda sudah tujuh purnama. Ia pergi ke hutan yang setengah siang saja jaraknya. Lelaki pemberani selalu berkelana ke Hutan Rawarontek. Sebuah alas gung liwang Liwung, yang luasnya tak terbatas ke timur dan ke utara. 

Di sana hawanya selalu lembab, anginnya dingin melambai-lambai, tanahnya gembur, selalu basah oleh air hujan yang menuruni ngarai. Di hutan itu hujan tak pernah berhenti, petir siang malam menari-nari. Sesaat sebelum siang pergi, pelangi selalu menampakkan keindahan ratri.

Hanya di Hutan Rawarontek, matahari timbul secuil sinarnya. Malam hari bintang membentangkan makna-makna, pelajaran ilmu surga. Saat bulan purnama seribu malaikat akan turun, melawat hutan itu. Mereka selalu menanam benih damai sejahtera. Membeberkan warta keselamatan semesta. 

Jika seseorang beruntung, ia akan menemukan sebuah candi yang terbuat dari batu bata. Bentuknya tak megah, hanya semacam gapura persegi, sebesar gedong pemujaan di pojok desa. Bangunannya tinggi, sejumlah seribu satu anak tangga. Pada tangga-tangga itulah malaikat yang juga seribu jumlahnya mendendangkan lagu syahdu, duka jagad raya. Satu tangga terbawah dikosongkan sengaja. Itulah tempat manusia tertabis menjalani ritualnya.  

Candi itu selalu dijaga oleh seekor naga bermata merah api menyala. Badannya kokoh kekar berkelok-kelok, sebesar pohon kelapa tua. Sisiknya bulat sakti bak perisai dari besi. Pada kepalanya, ia memakai mahkota emas dengan gambar bunga Cempaka di dahi.  

Naga itu kabarnya tidak pernah tidur. Badannya selalu menjulur, mengelilingi candi itu bahkan hingga tiga kali putaran panjangnya. Mata dan telinganya tajam, mampu menangkap gerak dan suara hingga tiga ratus ribu langkah jauhnya. Ia tak hanya menangkap gerak dan suara, konon ia mampu mengenali maksud hati si pelakunya. Jika datang manusia berhati busuk, jadi geramlah ia, matanya menyala, sisiknya mekar, matanya mendongak tinggi, lidahnya menjulur menyerukan gulungan api yang siap membakar angkara!

***
Senyap…sunyi…hanya jangkrik menjeritkan bunyi…

Dan sampailah pemuda itu hingga ke mulut candi. “Dimanakah Sang Naga Anila?”, tanya pemuda dalam hati. Ia menuju pelataran candi lalu hendak naik ke undakan lagi.

“Apa yang kamu cari?”, lelaki tua berbadan ceking sedang mengumpulkan kayu kering. Kulitnya hitam legam, keriput, berkerut-kerut dimakan jaman. Rambutnya yang putih dan panjang terlihat sudah mulai jarang. Ia memakai baju mirip surjan berwarna hitam legam. Celananya gombrong dengan sarung coklat diselempangkan. Kain sarung itu bercorak kelapa wutah khas petani pedalaman. Barang seperti itu biasanya bekas para bangsawan yang setiap bulan ruwah dijual di Pasar Kembang. Harganya lima pikul padi ketan. Maklum, narapraja Mataram paling hobi ketan pulen dengan lauk serundeng kelapa muda. Gurih campur manis legit yang menggoda. 

“Aku mencari Naga Anila!”, pemuda itu menjawab sekenanya.  

“Ia tidak ada di sini. Jika Naga Anila yang kamu cari, ia sudah pergi”, tukas aki sedikit nada tinggi. Wajahnya mulai sedikit tersingkap. Pipinya tirus. Giginya tanggal beberapa. Janggut sepanjang jengkal. Jidat sempit tertutup rambut bersliweran. 

“Pulanglah! Dindamu menangis semalaman. Sudah tujuh purnama ia kau tinggalkan.”

“Jika nanti bertemu Puspitasari, siramilah ia setiap hari dengan doa-doa dan puja rukmi. Rawat dengan sabar dan sepenuh hati. Semoga dengan kehendak dewata, seluruh angan-angan dan cita-citamu akan segera tercapai.” kata aki. 

Lalu datang angin tipis menyapa, dahi tersibak sedikit saja. Ada yang tergambar di sana. Lalu seorang lelaki tua itu menghilang terkubur rasa.  
***
Demikianlah pemuda itu pulang, dan menceritakan seluruh kisahnya pada warga desa. Semua bingung setengah percaya. 

Tetua bertanya,”Apa yang kau lihat pada dahi orang tua itu?”. Pemuda diam seribu bahasa. Berkerut-kerut dahi mengingatnya. Ia hampir saja lupa pada pandangan seketika. Itulah sesungguhnya, gambar bunga Cempaka.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar