Penduduk Desa Sidobali mendadak
riuh!
Tak jauh dari pohon Kesumba
tumbuhlah setangkai bunga. Bunga itu manis dan elok; tinggi selutut orang
dewasa, bentuknya bulat nyempluk
seperti apem, warnanya merah berseri dengan taburan titik-titik berwarna biru,
kuning dan ungu. Batangnya sebesar jempol lelaki remaja, sekujur batang itu dipenuhi
bulu-bulu halus putih warnanya. Daunnya mirip daun cocor bebek, berjumlah dua
saja. Bunga yang elok nan cantik. Penduduk mendapatinya menangis semenjak malam tadi!
Usut punya usut, Puspitasari
namanya, sedang menunggu kakanda sudah tujuh purnama. Ia pergi ke
hutan yang setengah siang saja jaraknya. Lelaki
pemberani selalu berkelana ke Hutan Rawarontek. Sebuah alas gung liwang Liwung, yang luasnya tak terbatas ke timur dan ke utara.
Di sana hawanya selalu lembab, anginnya dingin melambai-lambai, tanahnya gembur, selalu basah oleh air hujan yang menuruni ngarai. Di hutan itu hujan tak pernah berhenti, petir siang malam menari-nari. Sesaat sebelum siang pergi, pelangi selalu menampakkan keindahan ratri.
Di sana hawanya selalu lembab, anginnya dingin melambai-lambai, tanahnya gembur, selalu basah oleh air hujan yang menuruni ngarai. Di hutan itu hujan tak pernah berhenti, petir siang malam menari-nari. Sesaat sebelum siang pergi, pelangi selalu menampakkan keindahan ratri.
Hanya di Hutan Rawarontek, matahari
timbul secuil sinarnya. Malam hari bintang membentangkan makna-makna, pelajaran
ilmu surga. Saat bulan purnama seribu malaikat akan turun, melawat hutan itu. Mereka
selalu menanam benih damai sejahtera. Membeberkan warta keselamatan semesta.
Jika seseorang beruntung, ia akan
menemukan sebuah candi yang terbuat dari batu bata. Bentuknya tak megah, hanya semacam
gapura persegi, sebesar gedong pemujaan di pojok desa. Bangunannya tinggi, sejumlah
seribu satu anak tangga. Pada tangga-tangga itulah malaikat yang juga seribu jumlahnya
mendendangkan lagu syahdu, duka jagad raya. Satu tangga terbawah dikosongkan sengaja.
Itulah tempat manusia tertabis menjalani ritualnya.
Candi itu selalu dijaga oleh seekor
naga bermata merah api menyala. Badannya kokoh kekar berkelok-kelok, sebesar pohon
kelapa tua. Sisiknya bulat sakti bak perisai dari besi. Pada kepalanya, ia memakai mahkota emas dengan gambar bunga
Cempaka di dahi.
Naga itu kabarnya tidak pernah
tidur. Badannya selalu menjulur, mengelilingi candi itu bahkan hingga tiga kali
putaran panjangnya. Mata dan telinganya tajam, mampu menangkap gerak dan suara
hingga tiga ratus ribu langkah jauhnya. Ia tak hanya menangkap gerak dan suara, konon
ia mampu mengenali maksud hati si pelakunya. Jika datang manusia berhati busuk,
jadi geramlah ia, matanya menyala, sisiknya mekar, matanya mendongak tinggi,
lidahnya menjulur menyerukan gulungan api yang siap membakar angkara!
***
Senyap…sunyi…hanya jangkrik menjeritkan
bunyi…
Dan sampailah pemuda itu hingga ke
mulut candi. “Dimanakah Sang Naga Anila?”, tanya pemuda dalam hati. Ia menuju
pelataran candi lalu hendak naik ke undakan lagi.
“Apa yang kamu cari?”, lelaki tua berbadan
ceking sedang mengumpulkan kayu kering. Kulitnya hitam legam, keriput,
berkerut-kerut dimakan jaman. Rambutnya yang putih dan panjang terlihat sudah mulai
jarang. Ia memakai baju mirip surjan berwarna hitam legam. Celananya gombrong dengan
sarung coklat diselempangkan. Kain sarung itu bercorak kelapa wutah khas petani pedalaman. Barang seperti itu biasanya bekas
para bangsawan yang setiap bulan ruwah dijual di Pasar Kembang. Harganya lima pikul
padi ketan. Maklum, narapraja Mataram paling hobi ketan pulen dengan lauk
serundeng kelapa muda. Gurih campur manis legit yang menggoda.
“Aku mencari Naga Anila!”, pemuda
itu menjawab sekenanya.
“Ia tidak ada di sini. Jika Naga
Anila yang kamu cari, ia sudah pergi”, tukas aki sedikit nada tinggi. Wajahnya mulai sedikit tersingkap. Pipinya tirus. Giginya tanggal beberapa. Janggut sepanjang jengkal. Jidat sempit tertutup rambut bersliweran.
“Pulanglah! Dindamu menangis
semalaman. Sudah tujuh purnama ia kau tinggalkan.”
“Jika nanti bertemu Puspitasari, siramilah
ia setiap hari dengan doa-doa dan puja rukmi. Rawat dengan sabar dan sepenuh hati. Semoga
dengan kehendak dewata, seluruh angan-angan dan cita-citamu akan segera tercapai.”
kata aki.
Lalu datang angin tipis menyapa,
dahi tersibak sedikit saja. Ada yang tergambar di sana. Lalu seorang lelaki tua itu menghilang
terkubur rasa.
***
Demikianlah pemuda itu pulang, dan
menceritakan seluruh kisahnya pada warga desa. Semua bingung setengah percaya.
Tetua bertanya,”Apa yang kau
lihat pada dahi orang tua itu?”. Pemuda diam seribu bahasa. Berkerut-kerut
dahi mengingatnya. Ia hampir saja lupa pada pandangan seketika. Itulah sesungguhnya,
gambar bunga Cempaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar